lognews.co.id, Indramayu – Ide kreatif kerap lahir dari hal paling sederhana. Siapa sangka, sebuah tugas prakarya anak SMA justru menjadi cikal bakal produk UMKM unik yang kini dikenal hingga mancanegara. Inilah kisah Kerupuk Telur Asin, produk unggulan dari Desa Juntinyuat, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu. (19/1/26)
Usaha ini dirintis oleh Zainudin (51), warga Desa Juntinyuat, yang mulai memproduksi kerupuk telur asin sejak 2023. Berawal dari rasa penasaran, ia mencoba kembali membuat kerupuk berbahan dasar telur asin yang sebelumnya dibuat sang anak untuk tugas sekolah.
“Awalnya hanya untuk konsumsi sendiri dan suguhan tamu. Tapi ternyata banyak yang suka, lalu mulai pesan,” ujar Zainudin saat ditemui di rumahnya.
Dari dapur rumah sederhana, kerupuk telur asin buatan Zainudin perlahan mendapat tempat di hati penikmat camilan. Respons positif tidak hanya datang dari tetangga dan kerabat di sekitar, tetapi juga dari keluarga yang tinggal di luar negeri. Tanpa diduga, produk ini ikut ‘terbang’ ke mancanegara.
“Ada kerabat saya yang kerja di luar negeri membawa kerupuk ini. Teman-temannya suka, bahkan pesan sampai 10 kilogram,” tuturnya dengan senyum bangga.
Dalam satu kali produksi, Zainudin menghabiskan sekitar 50 butir telur asin. Proses produksi dilakukan seminggu sekali untuk menyesuaikan permintaan pelanggan. Kerupuk telur asin hadir dalam tiga varian rasa, yakni original, balado, dan jagung bakar, dengan harga terjangkau mulai dari Rp2.000 untuk kemasan kecil hingga pembelian per kilogram.
Keunggulan lain produk ini terletak pada daya tahannya. Zainudin menyebut, kerupuk telur asin buatannya pernah disimpan hingga dua bulan tanpa perubahan rasa maupun kualitas. “Kami juga sudah uji nutrisi di Bandung. Hasilnya tidak ada masa kedaluwarsa, hanya ‘best before’,” jelasnya.
Zainudin berharap, kerupuk telur asin khas Juntinyuat tidak hanya menjadi camilan, tetapi juga membawa nama desa ke tingkat nasional bahkan internasional. Ia ingin usahanya menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lain di Indramayu untuk berani berinovasi.
Semangat kreativitas ini sejalan dengan dorongan pengembangan ekonomi kreatif daerah. Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispara Indramayu, Imam Mahdi, menegaskan pentingnya kreativitas berbasis ekonomi kerakyatan dalam meningkatkan pendapatan dan membuka lapangan kerja.
“Ide-ide kreativitas seringkali berawal dari ide liar yang dianggap aneh, tapi justru menjadi antitesis dari ide lama,” ujarnya. Berbagai pembinaan dilakukan melalui pameran, lomba, bimbingan teknis, pelatihan, hingga promosi digital serta pemanfaatan ruang publik seperti Car Free Day dan Car Free Night sebagai etalase produk lokal.
Kisah Kerupuk Telur Asin Juntinyuat menjadi bukti bahwa kreativitas, sekecil apa pun awalnya, dapat tumbuh menjadi peluang besar ketika dipadukan dengan keberanian dan ketekunan. (Amri-untuk Indonesia)


