lognews.co.id - Ma’had Al-Zaytun kembali menggelar simposium pelatihan pelaku didik pekan ke-35 pada Ahad, 1 Februari 2026. Forum ini menghadirkan narasumber dari Indonesia Timur, salah satunya Prof. Mahyuni, M.A., Ph.D., Guru Besar Universitas Mataram di bidang Linguistik Terapan, Analisis Wacana, dan Pendidikan Bahasa Inggris.

Dialog yang berlangsung dalam forum tersebut menyoroti pendidikan kebangsaan, model boarding school, hingga arah kebijakan pendidikan nasional jangka panjang. Prof. Mahyuni berbagi pandangan berdasarkan pengalaman panjangnya di dunia pendidikan sejak 1983, mulai dari tingkat SMP, SMA, SMK, madrasah, hingga perguruan tinggi.
Boarding School dan Penguatan Kebangsaan
Prof. Mahyuni menilai model pendidikan berasrama memiliki posisi penting dalam menanamkan nilai kebangsaan. Menurutnya, Indonesia memiliki tingkat keragaman etnis, budaya, dan keyakinan yang tinggi sehingga potensi perpecahan selalu ada.
Dalam konteks itu, lembaga pendidikan yang secara sadar membangun visi persatuan di bawah Pancasila dinilai menjadi kebutuhan strategis. Ia melihat pendekatan pendidikan berasrama memungkinkan pembinaan karakter, kedisiplinan, dan rasa kebersamaan dilakukan secara lebih intens.
Ia menyebut tidak banyak lembaga yang benar benar fokus mewujudkan komitmen kebangsaan dalam praktik pendidikan sehari hari. Karena itu, model yang menggabungkan pendidikan akademik dan pembinaan karakter dinilai relevan untuk masa depan bangsa.
Komitmen Kebangsaan dan Jejaring Relasi
Dalam pandangannya, keberhasilan membangun lembaga pendidikan besar tidak lepas dari kemampuan membangun relasi dan kepercayaan. Ia menyinggung pentingnya komunikasi panjang dengan berbagai pihak agar visi pendidikan dapat diwujudkan.
Konsep kolaborasi multipihak atau Penta Helix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, masyarakat, dunia usaha, dan media, disebut sebagai pendekatan yang realistis. Pendidikan dinilai tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan ekosistem.

Menurutnya, membangun jaringan membutuhkan silaturahmi yang konsisten. Relasi yang terawat membuka peluang kontribusi dari banyak pihak untuk kemajuan lembaga pendidikan.
Fondasi Filosofis Pendidikan
Prof. Mahyuni menekankan bahwa pendidikan tidak boleh dirancang secara sembarangan. Ia menyoroti pentingnya landasan filosofis, ontologis, aksiologis, dan epistemologis dalam setiap kebijakan pendidikan.
Setiap tindakan pendidikan, menurutnya, harus memiliki argumen yang jelas. Mengapa dilakukan, apa manfaatnya, dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat luas. Tanpa dasar itu, program besar berisiko menjadi proyek jangka pendek.
Ia membandingkan dengan negara maju yang memiliki arah pendidikan jangka panjang hingga puluhan tahun. Kebijakan tidak mudah berubah hanya karena pergantian pejabat.
Kritik terhadap Kebijakan yang Berubah Ubah
Dalam diskusi, ia juga menyoroti kecenderungan kebijakan pendidikan yang berganti arah setiap terjadi pergantian menteri. Situasi ini dinilai membuat pembangunan pendidikan tidak berkelanjutan.
Menurutnya, bangsa membutuhkan peta jalan pendidikan jangka panjang yang disepakati bersama. Ia menyinggung pentingnya keputusan kuat di tingkat negara agar arah pendidikan tetap konsisten meski terjadi pergantian kepemimpinan.
Ia juga mengingatkan bahwa aturan yang memaksa atau menyulitkan masyarakat perlu ditinjau ulang secara akademik dan sosiologis. Kebijakan seharusnya hadir untuk melayani, bukan sekadar mengatur.
Gagasan 500 Titik Pendidikan
Diskusi turut menyinggung gagasan pembangunan ratusan titik lembaga pendidikan di berbagai wilayah Indonesia. Prof. Mahyuni menilai pembangunan fisik saja tidak cukup.
Ia menekankan pentingnya dasar pemikiran yang kuat. Tanah dan bangunan bisa disiapkan, namun tanpa filosofi pendidikan yang jelas, hasilnya tidak optimal.
Ia mendorong adanya kajian, komparasi, dan sintesis sebelum program besar dijalankan. Menurutnya, pendidikan adalah kebutuhan sepanjang manusia ada sehingga perencanaannya harus matang.
Pendidikan, Warisan, dan Tanggung Jawab Moral
Bagi Prof. Mahyuni, kontribusi di dunia pendidikan adalah bagian dari warisan kebaikan bagi generasi mendatang. Ia menyampaikan bahwa di usia matang, keinginan utama adalah mewariskan hal yang bermanfaat.
Ia memandang forum diskusi pendidikan sebagai ruang aktualisasi pemikiran. Gagasan yang disebarkan dapat menjadi inspirasi bagi banyak pihak, meski tidak selalu langsung terlihat hasilnya.
Simposium pelatihan pelaku didik di Al-Zaytun dijadwalkan berlangsung hingga pekan ke-45. Seluruh rangkaian pemikiran para narasumber direncanakan dirangkum dan dipresentasikan kembali pada peringatan Hari Pendidikan Nasional.
Harapannya, forum tersebut dapat menjadi kontribusi nyata bagi penguatan arah pendidikan Indonesia serta memperkokoh persatuan bangsa melalui jalur pendidikan. (Sahil untuk Indonesia)


