Oleh: LatifWH
lognews.co.id - Mudah mengatakan golongan anu sesat, menolak aktivitas seseorang/ suatu komunitas dengan menghakimi dan memberi label komunitas tersebut sebagai pembawa ajaran sesat dan layak untuk diboikot, dan lain sebagainya.
Mereka sebut itu sebuah perjuangan melawan kekufuran, dengan tangan mengepal dan berteriak membawa-bawa nama Tuhan. Seolah meyakini Tuhan pasti membenarkan dan mendukung perilaku mereka.
Sangat disayangkan bila penggerak emosional masyarakat itu sering melabeli dan mengatasnamakan diri mereka sebagai sekumpulan ulama.
Masyarakat bisa mudah tersulut oleh provokasi atas nama agama karena agama menyentuh bagian paling dalam dari identitas manusia: keyakinan, rasa benar, rasa suci, dan rasa memiliki kelompok.
Ketika agama disentuh, banyak orang merasa bukan sekadar pendapatnya yang diserang, tetapi harga diri dan kehormatannya juga.
Beberapa faktor yang sering membuat provokasi agama cepat menyebar antara lain:
Fanatisme tanpa pemahaman mendalam
Banyak orang semangat membela agama, tetapi tidak cukup memahami ajarannya secara utuh. Akibatnya, potongan informasi, ceramah emosional, atau cuplikan video pendek mudah memicu kemarahan.
Politik dan kepentingan kelompok
Agama sering dipakai sebagai alat mobilisasi massa karena sangat efektif membangkitkan emosi. Isu agama dapat membuat orang cepat berpihak tanpa memeriksa fakta terlebih dahulu.
Psikologi massa
Saat berada dalam kelompok besar, seseorang cenderung mengikuti emosi bersama. Orang yang biasanya tenang bisa ikut marah karena terdorong suasana dan tekanan sosial.
Media sosial mempercepat api provokasi
Konten yang memancing kemarahan biasanya lebih cepat viral dibanding penjelasan yang tenang dan panjang. Algoritma media sosial sering memperkuat emosi, bukan kejernihan berpikir.
Kurangnya budaya dialog
Banyak masyarakat belum terbiasa berbeda pendapat secara dewasa. Kritik sering dianggap penghinaan, sementara pertanyaan dianggap serangan.
Trauma sejarah dan rasa curiga
Di banyak tempat, konflik lama antar kelompok agama atau organisasi meninggalkan luka sosial. Sedikit isu saja bisa membangkitkan kembali kecurigaan lama.
Ironisnya, hampir semua agama mengajarkan pengendalian diri, kejujuran, dan kasih sayang. Namun dalam praktik sosial, agama kadang lebih dijadikan simbol identitas kelompok daripada sarana memperdalam akhlak dan kebijaksanaan.
Karena itu, masyarakat yang sehat biasanya memiliki:
pendidikan kritis, kebiasaan tabayun atau cek fakta, ruang dialog terbuka, pemimpin yang menenangkan, dan budaya menghargai perbedaan.
Orang yang benar-benar kuat dalam keyakinannya biasanya tidak mudah panik, tidak mudah marah, dan tidak mudah diperalat oleh provokasi.
Kalau benar agama diciptakan untuk menjadikan manusia itu beradab dan berbudaya tinggi, mengapa fakta yang terjadi justru sebaliknya ????
Wallahua'lam bishowwab. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah



